Pemikiran Filosof Yunani
Para Filsuf Alam Ionia. Para pemikir besar yunani yang mempersalahkan alam ialah thales (+630-546 SM), Anaximander (hidup pada pertengahan abad ke-6 SM), Anaximenes (+550 SM), para penganut paham pytagoreanisme (abad ke-5 SM), Plato (427-347SM), dan Aristoteles (348-332 AM). Ketiga tokoh yang pertama di atas mewakili ‘madzab filsyf alam lonia’. Bagi mereka, yang merupakan pertanyaan yang hakiki ialah, “Apakah yang merupakan subtansi asli yang tidak berubah-ubah yang mendasari semua perubahan dalam alam semesta yang kita kenal?”
Orang-orang yunani terkesan akan keteraturan dan ketertiban yang tampak dalam alam kodrat, yang mereka pandang sebagai alam benda-benda yang bergerak, bagi mereka keteraturan tersebut bersumber pada jiwa yang memasakan ketertiban terhadap segala sesuatu. Bahkan thales, filsus yunani tertua yang berpendirian bahwa apa saja yang ada tersusun dari air, menaruh keyakinan bahwa alam kodrat merupakan semacam makhluk hidup, seperti halnya hewan, mempunyai jiwa. Alximander memandang substansi terdalam sebagai sesuatu yang ia namakan ketakterbatasan,yang digambarkanya bahwa hal tersebut tidak berhingga jumlahnya dan tidak terteentu sifatnya. Ia juga berpendapat, berdasarkan atas ketakterbatasan tersebut timbullah berbagai dunia yang tidak terbatas jumlahnya.
Alam dipandang bersifat mekanik, dengan menetapkan berlakunya teori heliosentris (teori bahwa matahari merupakan pusat gerakan planit-planit), Copemicus secara tidak langsung menunjukkan bahwa segenap bagian dari angkasa sesungguhnya mempunyai kualitas yang sama. Tidak terdapat perbedaan kualitas antara bumi kita dengan benda-benda angkasa dan hukum-hukum gerakan berlaku di mana saja dalam lingkungan alam semesta.
Bruno memahamkan alam semesta sebagai sesuatu yang tidak berhingga, yang terhampar secara tidak menentu di dalam ruang, dan membayangkan adanya manusia-manusia seperti kita yang mendiami dunia-dunia yang tidak terhingga jumlahnya, yang kesemuanya itu bergerak berdasarkan hukum-hukum yang sama.
Kepler menolak ajarn gerakan alami, dan menampilkan perinsip kelambanan, yaitu prinsip yang mengatakan bahwa suatu benda cendrung untuk diam atau bergerak di tempat ia berada, kecuali apabila ia dipengaruhi oleh suatu benda lain yang terdapat di sekitarnya. Kepler mengajarkan tentang tenaga mekanis yang menghasilkan perubahan-perubahan kuantitatif.
Galileo mengembalikan segala sesuatu kepada pengertian-pengertian matimatik. Alam hendaknya diselidiki dengan jalan menggunakan matimatika. Segenap kenyataan pasti bersifat kuantitatif dan dapat diukur. Yang dinamakan kualitas-kualitas sesungguhnya merupakan sekedar bagian lahiriah yang menampak pada barang sesuatu, yang dihasilkan dalam diri kita oleh peroses-peroses yang terdapat dalam benda-benda alami yang kemudian ditangkap oleh alat-alat indrawi kita.
Comments
Post a Comment