Pemikiran Anaximandros
Anximandros adalah salah satu dari murid thales. Ia lebih muda lima belas dari thales, tapi meninggal dua tahun lebih dulu dari thales. Anazimandros adalah seorang ahli astronomi dan ilmu bumi.
Sebagai filosof ia lebih besar dari gurunya, oleh karena itu meskipun ia murid thales, namun mempunyai prinsip dasar alam memang satu akan tetapi prinsip dasar tersebut bukanlah dari jenis benda alam seperti air sebagaimana yang dikatakan gurunya. Prinsip dasar alam haruslah dari jenis yang tak terhitung dan tak terbatas yang oleh dia disebut apeiron.
Apeiron adalah zat yang tak terhingga dan tak terbatas dan tidak dapat dirupakan, tak ada persamaannya dengan apapun. Segala yang kelihatan itu, yang dapatn ditentukan rupanya dengan pancaindera kita, adalah barang yang mempunyai akhir, yang berhingga. Sebab itu barang asal, yang tiada berhingga, dan tiada berkeputusan, mustahil salah satu dari barang yang berakhir itu. Segala yang tampak dan terasa dibatasi oleh lawannya. Yang panas dibatasi oleh yang dingin. Di mana bermula yang dingin, disana berakhir yang panas. Yang cair dibatasi oleh yang beku, yang terang oleh yang gelap. Dan bagaimana yang berbatas itu takan dapat memberikan sifat kepada yang tidak berkeputusan.
Segala yang tampak dan terasa, segala yang dapat ditentukan rupanya dengan panca indera kita, semuanya itu mempunyai akhir. Ia timbul (jadi), hidup, mati dan lenyap. Segala yang berakhir berada dalam kejadian senantiasa, yaitu dalam keadaan berpisah dari yang satu kepada yang lain. Yang cair menjadi beku dan sebaliknya. Semuanya itu terjadi dari ada Apeiron dan kembali pula pada Apeiron.
Demikianlah kesimpulan hukum dunia menurut pandangan Anaximandros! Disitu tampak kelebihannya daripada gurunya. Selagi thales berpendapat bahwa barang yang asli itu salah satu dari yang lahir, yang tampak, dan yang berhingga juga, Anazimandros meletakkannya di luar alam yang memberikan sifat yang tiada berhingga padanya dengan tiada dapat diserupai.
Meskipun teori tentang asal kejadian alam tidak begitu jelas, namun dia adalah seseorang yang cakap dan cerdas. Dia tidak mengenal ajaran islam atau kristen, bahwa dunia semula tidak ada lantas diciptakan menjadi ada dan nanti akan kembali menjadi tidak ada lantas dengan cara kun fayakun, tidak pula dia mengenal kepercayaan india yang beranggapan bahwa ada tuhan yang bertugas mencipta, ada yang bertugas memelihara, dan ada yang bertugas merusak. Baginya, alam adalah belantara keabadian di mana dunia kita juga berada, tidak ada penciptaan dan tidak ada pemusnahan, yang ada hanya gerak, evolusi dan perkembangan abadi, dan dunia yang ada adalah salah satu perwujudannya.
Comments
Post a Comment